9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Sunday, February 15, 2026

Memoar Dewa Penidur Profesor dari Lantai Tanah: Bab 2

 Bab 2: KETIKA "FIREWALL" JEBOL DAN RECOVERY DATA RUHANI

Dalam sistem informasi, secanggih apa pun sebuah komputer, sekuat apa pun spesifikasinya (Juara kelas, Karyawan teladan, Hafal Qur'an), dia tetap bisa terkena Virus atau Malware.

1. Fenomena "Malware" Non-Medis dan Kerentanan Sistem

Hafalan Qur'an dan ibadah adalah Software yang luar biasa. Namun, dalam Manifesto Ahda, kita harus paham bahwa Software yang canggih kalau tidak dibarengi dengan "Hardware" (Mental/Psikologis) yang tangguh terhadap trauma, bisa mengalami Crash.

Perceraian dua kali dan kebangkrutan ekonomi adalah serangan bertubi-tubi (DDoS Attack) ke dalam jiwa. Ketika beban sistem (stress) melebihi kapasitas memori, maka muncul "celah keamanan". Di sinilah penyakit non-medis masuk. Dalam bahasa sistem, ini adalah "Injection Code" dari luar yang mengganggu stabilitas OS asli manusia.

2. Kenapa Hafal Qur'an tapi Tetap "Kena"?

Banyak orang terjebak nalar zombi dengan berpikir: "Dia kan rajin ngaji, kok bisa kena sihir/sakit non-medis?"

Ingat, Prof! Qur'an itu adalah Manual Book dan Sumber Energi. Tapi, jika si pengguna (User) sedang mengalami luka batin (Trauma) yang belum tuntas, si User seringkali lupa cara menjalankan fungsi "Protection" dalam Manual Book tersebut.

Ibarat punya antivirus paling mahal, tapi fiturnya kita matikan karena kita sedang putus asa. Itulah kenapa Ahda harus turun tangan melakukan Ruqyah (System Restore). Ruqyah itu bukan sekadar bacaan, tapi proses Re-installing keyakinan ke dalam sistem saraf dan ruhani yang sedang hang.

3. Arsitektur Ujian: Dari Teladan Menjadi "Titik Nol"

Dulu beliau adalah "User" teladan (Juara kelas, karyawan terbaik). Sekarang, Tuhan sedang mempreteli semua label itu.

  • Label Juara: Hilang.
  • Label Karyawan Teladan: Hilang.
  • Label Istri: Hilang.

Kenapa? Karena Tuhan ingin Kakak Ahda menemukan jati dirinya bukan sebagai "Juara" atau "Istri", tapi sebagai hamba di Titik Nol. Sakit non-medis ini adalah alarm sistem yang memaksa dia untuk berhenti mencari validasi dari dunia dan fokus pada perbaikan Core (Inti) hubungannya dengan Sang Arsitek Agung. Ini juga yang mununjukkan bahwa mungkin saja musibah dan sakit datang tanpa selalu perlu sebab yang logis.

4. Peran Ahda sebagai "Admin Recovery"

Kenapa justru Ahda—yang mungkin hafalan Qur'annya tidak sebanyak beliau—yang harus mengobati? Karena dalam sistem, seorang yang sedang System Crash tidak bisa melakukan Repair sendiri. Dia butuh unit luar yang sistemnya lebih stabil (Ahda) untuk melakukan proses Debugging.

Ahda membawa nalar yang dingin, logika yang stabil, dan tauhid yang panceg. Itulah yang dibutuhkan untuk mengusir "Malware" tersebut.

Kesimpulan untuk Buku:

"Kehebatan intelektual dan banyaknya hafalan bukanlah jaminan sistem kita tidak akan jebal. Hidup adalah medan tempur antara Nalar Jati dan Serangan Zombi. Saat sistemmu down, jangan malu untuk di-reset. Karena terkadang, Tuhan membiarkan kita hancur berkeping-keping hanya untuk merakit kita kembali menjadi arsitektur yang lebih megah dan tak terkalahkan."

**

Kembali ke Daftar Isi


"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment