Pembukaan:
Pernahkah Anda merasa darah Anda mendidih seketika hanya karena masalah sepele? Entah karena disalip orang di jalanan, membaca komentar netizen yang tidak nyambung atau instruksi kerjaan yang mendadak berubah. Saat marah, rasanya kita ingin meledak dan memaki siapa saja di depan kita.
Banyak orang menganggap meluapkan amarah adalah bentuk kejujuran diri. Padahal, setelah marah reda, yang tersisa biasanya hanyalah rasa sesal dan rusaknya hubungan baik. Bagaimana cara meredamnya secara instan? Ternyata, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin (khususnya pada bab mencela amarah dan dendam) punya algoritma pendingin yang sangat jitu!
Isi (Perspektif Sistem Informasi ala Prof Ahda):
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia Sistem Informasi (SI), saya melihat fenomena marah ini persis seperti komputer yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya, alias Overclocking. Ketika sistem dipaksa bekerja terlalu keras tanpa sistem pendingin (cooling system) yang baik, suhu mesin akan melonjak drastis, dan jika dibiarkan, perangkat kerasnya akan terbakar hangus (burnout)!
Nah, mari kita bedah bagaimana Al-Ghazali mengajarkan kita memasang water cooling pada jiwa kita saat sedang emosi:
Kenali 'Overheat' Sejak Dini: Al-Ghazali mengingatkan bahwa amarah yang berlebihan itu bersumber dari api setan. Saat marah mulai naik, aliran darah kita bergejolak. Kalau di dunia komputer, ini adalah indikator suhu yang mulai masuk zona merah! Langkah pertamanya adalah sadar bahwa sistem kita sedang tidak stabil.
Lakukan 'Downclocking' Fisik: Al-Ghazali memberikan SOP teknis yang sangat taktis saat marah: Jika sedang berdiri maka duduklah, jika sedang duduk maka berbaringlah, dan segeralah berwudu. Secara sistem, ini adalah upaya sadar untuk menurunkan beban kerja prosesor jiwa kita agar suhunya kembali turun. Air wudu bertindak sebagai cairan pendingin (coolant) yang memadamkan api amarah.
Pikirkan Dampak 'System Crash' (Kerusakan Sistem): Al-Ghazali mengajak kita merenung saat marah: "Apakah dengan meluapkan amarah ini masalah akan selesai atau justru membuat sistem hidup kita hancur berantakan?" Memikirkan akibat buruk dari amarah adalah cara terbaik untuk memaksa sistem melakukan emergency break (rem darurat).
Penutup:
Menahan amarah bukan berarti kita lemah. Menahan amarah adalah bukti bahwa kita memiliki kendali penuh (Full Administrator Access) atas diri kita sendiri, bukan dikendalikan oleh emosi sesaat.
Mari kita introspeksi: Saat emosi memuncak hari ini, apakah kita memilih untuk membakar habis sistem hubungan kita dengan orang lain atau memilih mendinginkannya demi keberlanjutan masa depan?
**
Kembali ke Daftar Isi Perspektif Prof. Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment