Pembukaan:
Zaman sekarang, banyak orang yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan tombol Like, komentar pujian, atau pengikut yang banyak di media sosial. Kita memoles hidup kita sedemikian rupa agar terlihat sempurna di mata orang lain. Kita menjadi sangat haus akan validasi dan pengakuan publik.
Tapi anehnya, semakin banyak pujian yang didapat, hati kita justru semakin merasa hampa dan takut kehilangan popularitas tersebut. Kenapa kita bisa terjebak dalam lingkaran setan haus validasi ini? Ternyata, ratusan tahun lalu Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin (khususnya pada bab mencela kemegahan dan riya) sudah membedah penyakit jiwa yang sangat kronis ini!
Isi (Perspektif Sistem Informasi ala Prof Ahda):
Dalam dunia Sistem Informasi (SI), ada fenomena yang disebut Server Tergantung pada Resource Eksternal (API Dependency). Ini adalah kondisi di mana sistem kita tidak bisa berfungsi mandiri karena setiap prosesnya harus meminta data dan persetujuan dari server luar. Kalau server luar itu down atau memutus aksesnya, maka sistem kita langsung ikut mati total!
Nah, mari kita bedah kacamata Al-Ghazali tentang bahaya menggantungkan kebahagiaan pada penilaian orang lain:
'API Dependency' pada Pujian Manusia: Al-Ghazali menjelaskan bahwa mencari pangkat, kedudukan dan pujian manusia (hubbur riyasah) adalah racun bagi keikhlasan. Orang yang haus validasi itu ibarat sistem yang bergantung penuh pada "API pujian". Ketika orang lain memuji, sistem jiwanya menyala senang. Tapi begitu orang lain mencibir atau tidak peduli, sistem jiwanya langsung down dan stres berat!
Kehilangan Keaslian 'Core System' (Jiwa): Al-Ghazali mengingatkan bahwa orang yang hobi pamer (riya) demi pujian itu sedang membohongi dirinya sendiri. Demi memuaskan penonton, dia rela menghapus karakter aslinya dan memasang topeng kepalsuan. Akibatnya? Dia kehilangan kedamaian di dalam "sistem internalnya" sendiri karena sibuk mengurusi penilaian eksternal.
Solusi Memutus Ketergantungan (Latihan Khumul): Al-Ghazali menyarankan obatnya adalah dengan menyembunyikan amal atau sesekali menjauh dari hiruk-pikuk pusat perhatian (khumul). Dalam bahasa SI, ini adalah proses melepaskan ketergantungan dari server luar dan mulai membangun kekuatan di server internal sendiri secara mandiri!
Penutup:
Kebahagiaan sejati itu mandiri, tidak butuh divalidasi oleh jumlah like atau tepuk tangan manusia. Al-Ghazali mengajak kita untuk mengembalikan fungsi hati kita hanya untuk mencari rida Tuhan, bukan rida netizen.
Mari kita introspeksi: Apakah kita berkarya hari ini murni untuk memberikan kemanfaatan bagi sistem kehidupan, atau masih sibuk memantau layar HP demi memuaskan nafsu haus validasi kita?
**
Kembali ke Daftar Isi Perspektif Prof. Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment