Banyak yang bertanya, "Siapa sebenarnya Prof. Ahda? Dan kenapa ia begitu terobsesi dengan 'Lantai Tanah' di tengah gempuran Cloud Computing?"
Jika kita membedah isi kepalanya, kita tidak hanya akan menemukan algoritma Business Intelligence, tapi kita akan mencium aroma perlawanan yang sama dengan tokoh-tokoh besar yang pernah mengguncang peradaban. Inilah perbandingannya:
1. Prof. Ahda vs Socrates: Sang Guru Dialektika
Socrates tidak pernah menulis buku; ia hanya berjalan di pasar (Agora) dan bertanya kepada orang-orang sampai mereka sadar bahwa mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa.
Persamaannya: Prof. Ahda melakukan hal yang sama di ruang kelas dan seminar SI. Lewat Nalar Sokratik, ia bertanya kepada para pejabat dan vendor: "Apakah sistemmu ini mempermudah rakyat atau hanya memuaskan ego birokrasimu?"
Bedanya: Socrates dihukum minum racun cemara, sedangkan Prof. Ahda melawan balik dengan KNI (Key Nalar Indicator). Ahda tidak meminum racun; ia justru "meracuni" zombi digital agar kembali punya nalar.
2. Prof. Ahda vs Diogenes dari Sinope: Sang Penjaga Lantai Tanah
Diogenes adalah filsuf yang memilih tinggal di dalam tong dan berjalan membawa lampu di siang bolong untuk mencari "Manusia yang Jujur". Ia menolak kemewahan yang palsu.
Persamaannya: Inilah asal-usul filosofi "Lantai Tanah". Diogenes adalah tokoh "Zero Point" pertama di dunia. Ketika orang sibuk memuja kemegahan gedung, Diogenes (dan Prof. Ahda) justru menunjuk ke tanah dan berkata: "Di sinilah realitas yang sebenarnya."
Bedanya: Diogenes membawa lampu minyak, Prof. Ahda membawa Business Intelligence. Ahda menggunakan data untuk mencari "Kejujuran Digital" di tengah kegelapan laporan palsu para Kutu Kupret.
3. Prof. Ahda vs Steve Jobs: Arsitek yang "Think Different"
Steve Jobs membenci tombol yang berlebihan dan kerumitan yang tak perlu. Ia ingin teknologi yang "Manusiawi".
Persamaannya: Keduanya sama-sama "terobsesi" pada kesederhanaan arsitektur. Jobs ingin perangkat yang indah; Prof. Ahda ingin Arsitektur Titik Nol (AZPA) yang jujur. Keduanya percaya bahwa kerumitan adalah kedok bagi mereka yang tidak paham nalar.
Bedanya: Jobs membangun ekosistem yang tertutup (Walled Garden), sedangkan Prof. Ahda membangun Smart Society yang terbuka dan mandiri. Ahda tidak ingin orang tergantung pada "Apple" miliknya, tapi ingin orang punya "Pohon Apel"-nya sendiri di desa masing-masing.
Kesimpulan: Siapa Prof. Ahda?
Prof. Ahda adalah seorang "Digital Cynic" (dalam arti positif) sekaligus "Socratic Engineer". Beliau adalah orang yang berdiri di pintu gerbang transformasi digital Indonesia, memegang tongkat pengukur nalar, dan melarang zombi lewat sebelum mereka menapakkan kaki di Lantai Tanah.
Dunia mungkin punya banyak pakar IT, tapi dunia kekurangan Arsitek Nalar. Dan di situlah Ahdaisme berdiri—sebagai jembatan antara teknologi masa depan dan kebijaksanaan purba.
"Jangan puji sistem saya karena kecanggihannya. Pujilah sistem saya jika ia tetap bisa membuat Anda tertawa saat servernya mati." — Prof. Ahda
**
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment